PIRAMIDA.ID- Pernahkah Anda menemukan diri Anda berjalan tertatih-tatih di tepi tebing kaca? Apakah Anda kerap menempel di lantai yang lengket? Atau tersesat dalam labirin? Besar kemungkinan, jika Anda seorang perempuan, metafora-metafora ini mendeskripsikan – bahkan membentuk – kehidupan Anda.
Para ilmuwan ilmu sosial yang mengkaji ketidaksetaraan gender sering menggunakan ungkapan aneh untuk mencoba dan menjelaskan fenomena sosial di tempat kerja. ‘Langit-langit kaca’ misalnya, dikenal banyak orang, namun para peneliti juga mengajukan banyak metafora lain untuk mendeskripsikan tantangan dan pengalaman yang dihadapi perempuan -dan pria juga – dalam karir mereka.
Jadi, apa arti metafora ini, dan dapatkan kata-kata ini mempengaruhi dapat atau tidaknya ketidaksetaraan gender diatasi?
Metafora dapat diimajinasikan dengan kuat, dan para peneliti menemukan bahwa mereka dapat memengaruhi perilaku kita bahkan tanpa kita sadari.
Bayangkan sebuah eksperimen yang mengeksplorasi bagaimana metafora sebuah kejahatan dapat memengaruhi keputusan orang.
Pada 2011, Lera Boroditsky dan Paul H Thibodeau dari Universitas Stanford meminta para siswa untuk membaca salah satu dari dua laporan kejahatan: yang satu mendeskripsikan kejahatan sebagai sebuah “binatang buas yang sedang menggerogoti kota” dan yang lain sebagai “virus yang menginfeksi kota”.
Solusi yang ditawarkan para siswa untuk mengurangi angka kejahatan cukup menarik: 75% dari siswa di kelompok ‘binatang buas’ berpikir bahwa hukuman atau penjara akan menyelesaikan kejahatan dan 25%nya menyarankan reformasi sosial.
Namun dari yang diberitahukan bahwa kejahatan “mewabah” di lingkungan sekitar, hanya 56% yang ingin lebih banyak penegakan hukum dan 44% lainnya menginginkan reformasi sosial.
Ketika para ilmuwan meminta siswa untuk melingkari bagian mana dari teks yang paling mempengaruhi mereka, kebanyakan mereka memilih angka – statistika kejahatan yang dingin – dan bukan metafora.
Hal itu menggambarkan bahwa manusia tidak selalu sadar dengan apa yang membentuk opini mereka, atau bahwa bahasa memiliki kuasa yang lebih besar dari bukti substantif.
Bagaimanapun, seperti yang pernah diutarakan penulis TS Eliot, metafora juga memiliki batasan: “Tak diragukan lagi jika menyebut unta sebagai kapal di padang pasir adalah sebuah ide yang cerdik,” tulisnya pada 1860, “Tapi tidak akan membuat orang melatih binatang yang berguna itu.”
Dengan kata lain, metafora dapat membantu orang mengerti topik-topik baru dan kompleks, namun sering sekali mereka hanya penyederhanaan, menawarkan hanya pandangan tertentu yang tidak memberikan gambaran keseluruhan.
Anda dapat melihat batasan serupa dengan deskripsi ‘langit-langit kaca’ di tempat kerja. Awalnya dipopulerkan oleh Gay Bryant dalam puncak gerakan feminis pada 1980an, saat ini menjadi terminologi yang sering digunakan untuk menjelaskan sebuah tantangan tak terlihat yang menghalangi perempuan menduduki posisi eksekutif.
Metafora itu menyiratkan bahwa perempuan seharusnya berkeinginan untuk ‘mendobrak’ langit-langit – namun masalahnya adalah hal itu hanya menggambarkan perempuan yang ingin naik ke posisi lebih tinggi, bukan katakanlah, pria yang turun dari posisi atas.
Kondisi ini dapat dikatakan menempatkan tanggung jawab yang tidak adil kepada perempuan untuk menghancurkan langit-langit, dibandingkan fokus ke peran pria yang menciptakan dan menjaga hal itu tetap terjadi.
Hal itu juga berlaku kepada banyak metafora lainnya yang dibuat untuk mendeskripsikan perempuan di tempat kerja. Misalnya, untuk pekerja yang dibayar lebih rendah, ada yang disebut dengan ‘lantai lengket’, yang mendeskripsikan bagaimana perempuan sering merasa tersangkut di pekerjaan bergaji rendah dan sulit untuk meningkatkan karir.
Kemudian ada juga ‘labirin’ bagi para perempuan untuk bernavigasi,’ tembok pembatas’ untuk disebrangi, dan semua jenis kaca, dari pintu kaca (hambatan untuk perekrutan awal) ke dinding kaca (tantangan atas transfer antar divisi dalam sebuah perusahaan).
“Perempuan adalah efek untuk dijelaskan,” kata Michelle Ryan, seorang professor psikologi di Universitas Exeter. “Kita tidak pernah berbicara mengenai pria yang terlalu percaya diri, kita selalu berbicara tentang perempuan yang kurang percaya diri.
Dan kita tidak pernah berbicara mengenai pria yang memiliki semua keistimewaan atau mendapatkan sesuatu dengan mudah; kita selalu bicara tentang perempuan yang sulit untuk meraih sesuatu.”
Ryan yakin bahwa metafora yang kita gunakan untuk mendeskripsikan perempuan dalam tempat kerja merefleksikan androsentrisme dunia – keyakinan kita bahwa meski pada 2017, kita menganggap pengalaman pria adalah “norma”.
Ironisnya, Ryan dan rekan kerjanya Alex Haslam sesungguhnya bertanggung jawab untuk metafora lain, yang muncul pada 2005: tebing kaca.
Pasangan ini memperhatikan sebuah kisah dalam kolom bisnis di koran Inggris The Times, yang mengklaim bahwa perempuan yang diberikan posisi senior di perusahaan FTSE 100 (100 perusahaan terbesar di bursa saham London) menyebabkan perusahaan-perusahaan itu berkinerja buruk. “Mereka berkata perempuan mendatangkan malapetaka, perusahaan Inggris akan lebih baik tanpa perempuan di dewan direksi,” kata Ryan, “dan kami membaca artikel itu dan cukup tercengang oleh kejamnya klaim itu.”
Kedua professor mengumpulkan data dari perusahaan-perusahaan tersebut dan menemukan bahwa penyebab yang terbalik yang justru terjadi – perempuan faktanya dipekerjakan di posisi senior di perusahaan-perusahaan berkinerja buruk. “Begitu kami mengetahui fenomena itu kami ingin sebuah metafora untuk menyampaikannya dan kami muncul dengan tebing kaca.”
Metafora itu mendeskripsikan bagaimana perempuan dalam posisi senior sering diperkerjakan untuk peran yang berisiko dan genting pada saat krisis. “Jadi, inilah ide perempuan berjalan tertatih-tatih di tepi tebing.”
Contoh baru-baru ini adalah Perdana Menteri Inggris Theresa May, menurut Ryan. May menolak kampanye Brexit yang dipimpin oleh politisi pria yang kemudian mundur, namun sekarang harus menyelesaikannya, yang merupakan “posisi yang berisiko dan tak dapat dipertahankan”.
Meminta pelaksanaan pemilu pada awal 2017 yang dapat melemahkan posisinya mungkin akibat keputusannya sendiri, kata Ryan, “namun itu juga datang dari kenyataan bahwa dia berada di posisi sulit dan berisiko. Responnya adalah dengan menghilangkan sebagian dari risiko dan kegentingan dengan memberikan dirinya sebuah mandat.”
Menariknya, ada satu metafora terkait yang fokus pada karir pria – eskalator kaca. Metafora itu digunakan untuk “mendeskripsikan tendensi pria di industri yang didominasi perempuan untuk naik ke posisi lebih tinggi lebih cepat dibanding perempuan di dalam industri tersebut”, menurut Caren Goldberg dari Bowie State University di Maryland.
Industri yang dimaksud adalah perawat atau pengajar sekolah dasar, namun metafora itu muncul karena, seperti diutarakan Goldberg, metafora digunakan saat ada ‘pengecualian’ atas aturan atau stereotip gender. “Misalnya, karakter perawat pria yang diperankan Ben Stiller di film Meet the Parents diejek oleh calon mertuanya sebagai tak maskulin dan tidak mampu masuk ke sekolah kedokteran.”
Dampak baik yang nyata dari metafora-metafora ini, bagaimanapun, menyoroti fenomena sosial yang jika tidak diangkat dapat tetap tak terlihat dan karenanya tak mungkin diselesaikan. Namun untuk merujuk keadaan-keadaan yang mengarahkan perempuan sebagai oknum yang tertahan, dan pria dapat naik dengan gampang, tetap tak dapat dilupakan bahwa metafora menyederhanakan kompleksitas.
Jika, sebagaimana ditunjukkan oleh penelitian tentang metafora, kata-kata ini dapat dengan halus memengaruhi bagaimana kita memutuskan untuk bertindak, maka kata-kata itu dapat memiliki konsekuensi yang tak diinginkan.
Langit-langit kaca, misalnya, menyiratkan bahwa ada hambatan yang dapat dihancurkan, jika perempuan bekerja cukup keras. Sebagaimana ditunjukkan sejumlah peneliti sosial, realita bahwa ada banyak masalah dengan akar yang lebih dalam dan tekanan yang menghalangi kemajuan perempuan di tempat kerja, sementara keistimewaan bagi pria merupakan sebuah norma.
“Ada kutipan dari Ginger Rogers bahwa perempuan harus mengerjakan sesuatu seperti yang dilakukan pria namun selalu dibelakang pria,” kata Ryan. “Idenya adalah perempuan harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan posisi yang sama dengan pria.”
Ryan berhenti sebentar. “Itu seharusnya memiliki nama. Saya tidak tahu apa! Kita butuh sebuah metafora untuk itu.”
Sumber: BBC Culture/Sophia Smith Galer