Oleh: Pesta Natalia Siregar*
PIRAMIDA.ID- Maret 2020 yang lalu, menjadi awal untuk bangsa Indonesia berperang menghadapi pandemi Covid-19. Pasalnya, dalam situasi dan kondisi seperti ini kita dipaksa untuk hidup berdampingan dengan wabah ini.
Pemerintah telah berupaya dengan sekuat tenaga untuk memerangi pandemi ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), artinya semua kegiatan dilakukan dari rumah, baik itu bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan bahkan ibadah dari rumah, tujuannya adalah untuk mengurangi mobilitas sosial. Sebab virus corona ini penyebaran begitu cepat.
Bersamaan dengan ditetapkannya PSBB ini juga berdampak pada sistem pembelajaran di Indonesia, dengan ditetapkannya pembelajaran jarak jauh atau istilah yang lebih dikenal dengan pembelajaran daring (dalam jaringan) mengharuskan siswa untuk mengikuti pembelajaran secara online.
Lebih dari 1 tahun pembelajaran daring ini dilakukan. Namun saat ini pembelajaran tatap muka terbatas sudah diizinkan, dengan memenuhi 3 syarat utama yang harus dilakukan untuk sekolah tatap muka.
Hal itu diungkapkan Nadiem Makarim dalam dialog produktif “Rindu Pembelajaran Tatap Muka” yang digelar media center KPCPEN, Kamis (1/4/2021).
Pertama, kapasitas kelas hanya 50% dengan jumlah maksimal siswa 18 orang per kelas.
Kedua, jarak antara bangku selebar 1,5 meter.
Ketiga, tidak boleh ada kerumunan seperti makan bersama, kantin, maupun kegiatan ekstra kurikuler.
“Pokoknya, setelah belajar, langsung pulang. Tidak boleh berkerumun,” tambah Nadiem. Atas keluarnya peraturan ini maka, saat ini sudah banyak sekolah yang melakukan tatap muka terbatas. Namun ternyata pembelajaran daring ini membawa dampak bagi pendidikan karakter siswa.
Pendidikan karakter merupakan salah satu tujuan penting dari pendidikan nasional Indonesia. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selama ini sekolah telah menjadi salah satu institusi pembelajaran yang bertanggung jawab meningkatkan pengetahuan, keahlian dan kepribadian siswa. Dan bahkan orang tua sangat berharap serta yakin kepada sekolah selaku pusat pembelajaran akademik serta pembelajaran kepribadian.
Sehingga proses pembuatan nilai-nilai kepribadian siswa berjalan bersamaan proses pendidikan di sekolah. Akan tetapi, semenjak pandemi Covid-19 menerjang serta sekolah ditutup berkepanjangan, pendidikan karakter siswa sangat memprihatinkan.
Seperti yang sudah saya katakan di atas, pembelajaran daring membawa dampak bagi pendidikan karakter siswa, saat ini banyak sekali siswa yang tidak menghargai orang lain, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab, tidak memiliki etika, minim akan sopan santun, dan lebih parahnya lagi tidak memiliki moral.
Tidak ada yang bisa disalahkan dalam kondisi ini. 1 tahun lebih siswa belajar dari rumah dengan penuh kebebasan dan tanpa adanya aturan. Di kondisi saat itu pula, ketika kegiatan pendidikan dilakukan secara daring, di mana yang terjadi lebih banyak hanyalah proses pembelajaran, atau transfer pengetahuan saja, tak ada yang bisa menjamin siswa mendapatkan pendidikan karakter dari kedua orang tua mereka sesuai dengan nilai-nilai yang selama ini diajarkan oleh institusi pendidikan.
Jadi dalam sistem pembelajaran tatap muka terbatas ini, diharapkan guru mampu menumbuhkan kembali pendidikan karakter bagi siswa. Salah satu kunci pendidikan karakter adalah adanya tokoh ataupun panutan untuk siswa. Di sekolah yang menjadi panutan bagi siswa dalam menumbuhkan nilai-nilai karakter adalah sosok seorang guru.
Guru yang berkarakter akan mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai ajaran agama dalam kesehariannya sehingga dapat ditiru oleh siswa. Karena prinsipnya seorang anak adalah peniru. Siswa akan mudah mengembangkan karakternya dengan meniru atau menyaksikan perilaku gurunya.
Bangsa ini butuh generasi muda yang karakter positifnya terbentuk, dan itu hanya bisa diraih dengan pendidikan karakter yang mengedepankan keteladanan para pengajar, yang harus disaksikan dan ditiru langsung oleh para siswa.
Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah dan segenap elemen pendidikan di Indonesia memikirkan bagaimana cara mengganti pendidikan karakter yang selama masa pandemi ini terpaksa harus terabaikan. Agar di masa yang akan datang, generasi muda Indonesia mampu membawa perubahan bagi negara ini, khususnya dalam segi pendidikan.(*)
Penulis merupakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar.