Oleh: Ernawati Pandiangan*
PIRAMIDA.ID- Internet sudah membawa perubahan terhadap sendi-sendi kehidupan manusia. Mulai dari cara mencari hiburan, informasi, bahkan dalam pekerjaan. Namun, tanpa disangka sebelumnya, internet ternyata telah membawa perubahan dalam hal komunikasi, khususnya dalam penggunaan bahasa.
Pengaruh ini akhirnya memunculkan Komunikasi Berperantarakan Komputer Internet (KBKI), yang menurut Kepala Bidang Pelindungan, Pusat Pengembangan dan Pelindungan, BPBP Dr. Ganjar Harimansyah dalam artikel berjudul ‘Bahasa Indonesia di Dunia Siber: Komunikasi Berperantarakan Komputer-Internet’ merupakan genre baru dalam berkomunikasi.
Penggunaan bahasa dalam KBKI atau di internet ini sering kali tidak beraturan. Misalnya saja penggunaan bahasa asing, seperti bahasa Inggris dan akronim, seperti OTW (on the way), BTW (by the way), CMIIW (correct me if I’m wrong), dan OOT (out of topic) sering kali digunakan dalam ketika menuliskan status, atau berkomunikasi dalam forum dan media sosial.
Tak hanya dipersingkat dan menggunakan bahasa asing, kehadiran emoticon dan stiker juga menggantikan fungsi bahasa dalam berkomunikasi di internet, contohnya emoticon 🙁 untuk menunjukan sedih, 🙂 untuk menunjukkan rasa gembira, T,T untuk menunjukkan tangisan dan masih banyak lagi.
Selain itu, pengguna bahasa daerah juga kerap kali muncul. Penggunaan istilah teh, wae, bah, dan wong terlihat tak asing ketika berkomunikasi di internet.
Perubahan dalam berbahasa ini, menurut Ketua Jurusan PBSI UIN Jakarta, Dr Makyun Subuki, M.Hum saat Seminar Nasional bertema ‘Dinamika Penggunaan Bahasa Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0’ pada Rabu (3/10/2019) lalu di Jakarta, adalah sebuah fenomena di mana penggunaan bahasa mengikuti kehidupan penggunanya. “Bahasa Indonesia yang kita pakai mengikuti penggunaan. Setiap teknologi yang kita pakai membawa dan memengaruhi perilaku berbahasa kita,” ujar Dr Makyun Subuki, M.Hum, ketua Jurusan PBSI UIN Jakarta.
Seminar yang berlangsung sebagai rangkaian acara memperingati Bulan Bahasa sekaligus penutup Olimpiade Bahasa dan Sastra Indonesia 2019 ini mengungkapkan secara lebih terperinci seperti apa penggunaan bahasa Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0.
Pembahasan ini pun secara apik didiskusikan bersama Dr Luh Anik Mayani, M.Hum; Ivan Lanin; dan Amalia Zahra, Ph.D yang membagikan dinamika ini dari beberapa sisi, seperti sosial, ekonomi, hingga perkembangan teknologi dari generasi ke generasi.
Luh Anik yang hadir dalam seminar tersebut mengungkapkan, tak hanya membawa perubahan dalam berkomunikasi, hadirnya teknologi seperti internet ternyata juga memunculkan kata-kata baru yang mewakili suatu konsep yang belum ada sebelumnya. “Contohnya kata laman, situs, unggah, unduh, kata kunci, pengguna (user), warganet (warga+internet), dan lain-lain,” ujarnya.
**
Wadah Pembelajaran Bahasa Indonesia
Kemunculan teknologi seperti internet tak hanya membawa perubahan bahasa tulisan dan lisan bahasa Indonesia, lewat internet kini masyarakat juga bisa mempelajari bahasa Indonesia secara mudah dan cepat.
Salah satu mengetahui berbagai kosakata Indonesia dan cara penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar lewat social media.
Ivan Lanin, salah satunya. Lewat Twitter, Ivan memberikan beberapa ilmu baru, seperti kosakata yang jarang digunakan hingga penulisan suatu kata yang benar. Tak jarang, beberapa pengikutnya ada yang berkonsultasi menggunakan bahasa Indonesia yang benar.
Ivan juga menuturkan, perkembangan teknologi menjadi ladang baik untuk pengajaran bahasa, terlebih jika melihat kondisi masyarakat Indonesia saat ini. “Banyak orang Indonesia belum bisa membedakan e takling dan e terbuka, toko dan tokoh, yang memiliki pelafalan berbeda, namun dilafalkan sama oleh masyarakat,” terangnya.
**
Penggunaan Bahasa di Era Revolusi Industri 4.0
Berbeda dengan yang lain, Amalia Zahra yang turut hadir dalam seminar tersebut mengungkapkan jika pengguna bahasa akan sangat berbeda dalam Era Revolusi Industri 4.0 ini.
Ia menyoroti bagaimana bahasa memiliki peran yang penting dalam perkembangan sistem integrasi teknologi. Contohnya seperti sistem teknologi smart home yang hanya dengan mengucapkan suatu fon atau kata yang dibisa dipahami oleh sistem tersebut.
“Misalnya kita lupa mematikan kompor. Jika dulu harus pulang ke rumah, sekarang hanya melalui aplikasi smart home pada smartphone kita hanya perlu mengucapkan beberapa kata dan kompor tersebut telah mati,” ujar Amalia.
Jadi bisa disimpulkan jika pada era Revolusi Industri 4.0 dinamika bahasa tak hanya membawa perubahan dan memberikan kosakata baru, namun juga menaikkan penggunaan bahasa yang semakin erat dengan penggunan teknologi sekarang bahkan di masa depan nanti.(*)
Penulis merupakan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar.