PIRAMIDA.ID- Ramainya kritikan terhadap pemerintah semakin banyak, dengan disampaikan dalam bentuk mural, aksi dan sebagainya.
Kini muncul hastag #JokowiClose dari kelompok yang mengatasnamakan Gerakan Nasional Selamatkan Indonesia. Ridwan Siahaan salah satu penggagas menyampaikan, situasi dan sandiwara yang diperankan oleh Jokowi dan beberapa oknum menterinya telah membawa Indonesia tersudut oleh permainan dan sandiwara para elit.
“Kebutuhan hidup rakyat Indonesia semakin tak menentu dan pemerintah gagal mengurus negara dan rakyatnya,” kata Riswan dalam rilis tertulis yang diterima redaksi, Kamis (19/08/2021).
Ia melanjutkan, di mana-mana rakyat menjerit akan kebutuhan hidup dan barang yang semakin mahal. Ia juga menyebut petani banyak yang gagal panen dan sering dimainkan oleh impor pertanian, para pekerja puluhan ribu dirumahkan akibat sandiwara PPKM yang cenderung mengikuti arus global yang tidak berpihak kepada tenaga kerja Indonesia. Nelayan enggan turun ke laut, pedagang kaki lima menjerit, warung-warung kosong pembeli dan lebih hebatnya para mafia negeri ini telah melakukan korupsi reformasi berjamaah.
“Partai pendukung pemerintah seakan tidak mau tahu, membiarkan kondisi semakin sulit dan lebih hebatnya Jokowi mempermainkan rasa keadilan rakyat Indonesia. Sandiwara PPKM yang telah menelan anggaran 1.100 triliun tidak dirasakan oleh rakyat, justru para Menteri menjadikan obyek vaksin sebagai lahan bisnis,” tandasnya.
“Sertifikat vaksin adalah pembodohan terhadap pelayanan publik, bisnis vaksin yang mengorbankan rakyatnya sendiri,” cetusnya dalam rilisnya.
Dalam tuntutannya, Gerakan Nasional Selamatkan Indonesia menuntut secara politik nurani di 19 provinsi kepada Jokowi-Amin sebagai berikut:
1. Jokowi turun atau rehsuffle kabinet;
2. Evaluasi 2 tahun kepemimpinan Jokowi-Amin gagal total
3. Dana PEN Rp.74.475 triliun dan hutang negara hampir 7.000 triliun tidak dirasakan oleh rakyat Indonesia;
4. Stop sandiwara PPKM dan lawan Covid-19;
5. Stop sertifikat vaksin sebagai syarat pelayanan hak publik. Sudah saatnya rakyat bergerak. Jangan diam di tempat.
“Kami siap pimpin revolusi. Mendidik rakyat dengan pergerakan. Mendidik penguasa dengan perlawanan,” demikian penutup dari rilis tersebut.(*)