Oleh: Vina Adelia Sinaga
PIRAMIDA.ID- Berbicara tentang kecerdasan, pada umumnya yang terlintas dalam benak kita adalah “pintar secara intelektual” atau bahkan “pintar dalam matematika”. Konsep ini sudah tertanam sejak lama bahkan masih tertanam sampai saat ini. Tetapi sebenarnya, kecerdasan tidak hanya sebatas seseorang pintar dalam matematika atau intelektualnya saja, tetapi ada banyak sekali ruang lingkup kecerdasan ini, mulai dari Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ), dan Kecerdasan Spritual (SQ).
Nah,di kesempatan ini saya akan membahas tentang pentingnya membina kecerdasan emosi anak pada masa pandemic Covid-19. Kecerdasan emosi merupakan sebuah kemampuan seseorang dalam mengendalikan perasaannya, mengenali perasaan orang lain, bahkan sampai kepada tumbuhnya rasa peduli, ingin berbagi, disiplin, berkomitmen dan karakter-karakter positif lainnya.
Lalu mengapa penting membina kecerdasan emosi anak pada masa pademi Covid-19? Ya, tentu sangat penting dikarenakan emosi memainkan peran yang sedemikian penting dalam kehidupan, emosi bukan berarti marah tetapi merupakan bentuk perasaan,baik itu sedih, senang, marah, kecewa, dan lain sebagainya.
Pada masa pandemi seperti ini, sangat sulit sekali memahami bagaimana keadaan emosi anak karena kita sama-sama mengetahui bahwa anak-anak belum tentu dapat mengekspresikan emosi yang tepat dalam setiap keadaan yang dirasakannya. Contohnya adalah ketika misalnya orang dewasa berbicara dengan suara yang lantang atau berteriak, anak merasakan ketakutan karena mereka merasa orang dewasa tersebut sedang marah padahal suara yang lantang bukan berarti orang lain sedang marah.
Jadi, jangan sampai emosi yang dimiliki anak menyimpang dari yang seharusnya. Membina emosi anak tujuannya agar perasaan yang positif itu bisa terbangun menjadi sebuah kebiasaan, sehingga anak-anak juga bisa membangun interaksi sosial yang baik. Maka perlu digarisbawahi, jangan sampai emosi seperti ketakutan, gugup, dan marah yang menjadi kebiasaan anak tersebut yang akhirnya menjadikan anak sebagai orang yang dijauhi dari kelompoknya.
Dalam kegiatan keseharian di masa pandemi Covid-19, anak-anak sering menunjukkan emosi yang bersifat negatif, yang menyebabkan hal ini adalah kurangnya komunikasi terhadap anak. Saya ilustrasikan begini, saat anak banyak berbicara orang tua seringkali membungkamnya dengan memberikan anak gawai sehingga tidak mengganggu aktivitas orang tua, hasilnya adalah anak menjadi kecanduan untuk bermain gawai, manakala anak tidak diberikan gawai maka ia akan menangis, tentu ini bukanlah emosi yang baik apalagi dalam masa pertumbuhan dan perkembangan anak.
Di masa pandemi Covid-19, kita sama-sama menyadari bagaimana keadaan yang mengharuskan kita merelakan pertemuan-pertemuan dengan oranglain, begitu pula anak-anak yang sangat jarang sekali untuk bermain dengan teman sebaya mereka, sehingga jarang sekali anak-anak berkomunikasi dengan teman-teman sebaya mereka, padahal komunikasi dengan teman-teman sebaya menjadikan mereka mampu mengekspresikan emosi dengan baik.
Dalam menyikapi hal ini orang tua harus menyadari pentingnya memberikan dukungan secara emosional bagi anak-anak, jadilah orang tua sekaligus sahabat bagi mereka. Maka cara-cara yang dapat dilakukan adalah memperhatikan kondisi lingkungan keluarga, apabila anak memiliki saudara di keluarganya maka biasakan mereka untuk saling berkomunikasi, saling menghargai dan pastinya saling menyayangi apalagi di masa-masa seperti pandei ini.
Jangan sampai setiap orang di keluarga menjadi individualis dan memiliki emosi yang tidak stabil, ini artinya adalah anak akan merasakan aman dan nyaman apabila ia merasakan kebahagiaan didalam rumah karena dengan orang tua memberikan keteladanan emosi yang baik, maka anak juga akan merasakan dan menunjukkan emosi yang baik pula. Memang tidak selalu mudah, namun tidak ada salahnya untuk berupaya.
Cara selanjutnya adalah dengan menanggapi setiap pertanyaan anak yang tidak ada habisnya, berikan mereka keleluasaan dalam berbicara dan mencari tahu apa yang sedang ditanyakan, sehingga anak menjadi pribadi yang berani dalam mengutarakan pendapatnya, apabila tidak bisa menanggapi maka berikan mereka sesuatu yang dapat mengalihkan perhatian tetapi bukan gawai, misalnya mereka bertanya tentang banyaknya plastik belanjaan di rumah,maka orang tua bisa berikan mereka tantangan untuk melipat plastik belanjaan agar rapi, dan berikan anak rewards atas kerja kerasnya dalam menyelesaikan tantangan. Dengan demikian, anak akan fokus untuk menyelesaikan tantangannya dan pada akhirnya ia merasakan emosi yang bahagia ketika ia menyelesaikannya.
Jangan lupa! Orang tua harus rajin berkomunikasi dengan anak sehingga selain mengutarakan pendapatnya, ia juga mampu berkomunikasi dengan baik. Komunikasi yang baik mampu menumbuhkan perasaan yang baik terhadap anak, ia akan merasa pendapatnya dihargai dan akan memahami bahwa pendapatnya yang diterima menumbuhkan perasaan bahagia sehingga akan memungkinkan untuknya belajar cara menghargai pendapat orang lain.
Ingatlah bahwa anak-anak belum pernah menjadi orangtua, tetapi orang tua sudah pernah menjadi anak-anak. Percayalah, kecerdasan emosi yang terbina dengan benar mungkin tidak menjadikan anak jenius tetapi menjadikannya unik dan istimewa.(*)
Penulis merupakan Mahasiswa Jurusan PGSD, Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar dan Partisan KSPM.