Fitzerald Kennedy Sitorus*
PIRAMIDA.ID- Dulu sewaktu mengerjakan disertasi tentang Kant di Frankfurt, kadang muncul juga rasa jenuh membaca buku filsafat. Untuk melepaskan kejenuhan, saya kadang pergi ke perpustakaan ilmu-ilmu Asia Tenggara dan membaca novel-novel sastra zaman Pujangga Baru atau majalah Basis di sana. Atau, berkeliling ke perpustakaan lain, melihat-lihat buku, dan mencomot buku apa saja yang menarik perhatian.
Suatu saat saya mencomot buku bergambar tentang Heidegger. Buku ini menarik perhatian. Selain karena ukurannya besar, buku ini hampir tanpa teks. Isinya hanya gambar Heidegger dalam sejumlah kesempatan yang sangat personal. Kebanyakan gambar itu diambil di pondok Heidegger di pinggiran hutan di Todtnauberg. Di pondok inilah Heidegger menulis bukunya yang sangat terkenal dan berpengaruh itu: Sein und Zeit (Ada dan Waktu).
Fotografer untuk buku bergambar Heidegger ini adalah Digne M. Marcovicz, fotografer Der Spiegel yang mendampingi tim wartawan majalah tersebut ketika mewawancara Heidegger di pondoknya pada 23 September 1966. Salah satu isu penting yang dibicarakan dalam wawancara terkenal itu adalah pertanggungjawaban Heidegger atas dukungannya terhadap Nazi Hitler.
Wawancara itu dilakukan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Heidegger sendiri bahwa hasil wawancara tersebut baru boleh dipublikasikan setelah ia meninggal dunia. Hasil wawancara itu kemudian terbit di majalah Der Spiegel lima hari setelah Heidegger meninggal dunia, dengan judul “Nur noch ein Gott kann uns retten” (Hanya sebuah Tuhan yang dapat menyelamatkan kita).
Ingat: Heidegger tidak mengatakan “hanya Tuhan“, melainkan “hanya sebuah Tuhan.” Jadi pernyataan ini tidak boleh terlalu diteologisasi!
Karena gambar-gambar dalam buku tersebut menarik, maka saya dulu menscan-nya. Maklumlah, Heidegger seorang filsuf besar yang kehidupan pribadinya sangat jarang diketahui orang. Ia menolak namanya dicantumkan dalam buku telepon. Ia lebih menyukai keheningan. Ia tidak memiliki televisi, dan kalau mau menonton pertandingan bola, ia biasanya pergi ke rumah tetangga. Pemain bola favoritnya adalah Franz Beckenbauer.
Ia yang waktu itu profesor di Universitas Freiburg yang kecil dan relatif tidak terkenal, dengan enteng menolak tawaran menjadi profesor dari berbagai universitas besar dan ternama di Jerman. Ia lebih suka tinggal di desa, bergaul dan duduk-duduk ngobrol dengan para petani sambil mengisap cerutu.
Sebagian dari foto-foto yang saya scan dulu saya posting di sini. Momen-momen dalam foto ini menggambarkan kehidupan Heidegger di pondoknya: di ruang kerjanya yang hampir tidak ada buku, ketika mengambil air dari sumur di belakang pondok, di kamar tidur, di meja makan bersama istri, ketika diwawancara tim wartawan Der Spiegel, dan lain-lain.
Foto-foto ini dulu saya scan ketika sedang iseng, dan saya tulis ulasan ini juga ketika sedang iseng karena harus mengurung diri di rumah gara-gara social distancing.
Kalau melihat gaya hidup Heidegger, maka ia dulu sudah dengan senang hati menjalankan apa yang sekarang harus dipaksakan kepada banyak orang: social distancing. Heidegger memang hebat.
Penulis merupakan dosen di UPH. Menyelesaikan studi Doktoralnya di Frankurt. Foto-foto yang terlampir merupakan koleksi dan arsip pribadi.