Rebecca Ruth Marpaung
PIRAMIDA.ID- Sopo Safari merupakan rumah belajar bagi anak pemulung, ada sekitar 60 anak lebih yang tinggal di lingkungan tanah garapan dan pembuangan sampah akhir (TPA) yang berlokasi di Tanjung Pinggir, Kota Pematangsiantar.
Sopo Safari didirikan dengan penuh dedukasi oleh Bapak Samuel Lasa dan Ibu Farida Sitorus. Penulis melakukan Praktek Kerja Lapangan di Sofo Safari terhitung sejak bulan September 2020 hingga Desember 2020.
Semakin berkembangnya zaman dalam lingkungan sekolah banyak ditemukan bahwa tingkat minat membaca dan menulis siswa menurun. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pembiasaan diri dalam membaca.
Rendahnya literasi membaca bangsa kita saat ini akan berdampak di masa depan dalam rendahya daya saing bangsa dalam persaingan global. Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara dalam hal literasi membaca.
Namun, berdasarkan hasil survey Wolrd Culture Index Score 2018, kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat signifikan. Indonesia menempati urutan ke-17 dari 30 negara. Tampaknya pandemi Covid-19 juga tingkatkan minat baca di sejumlah negara, salah satunya Indonesia.
Begitu juga dengan anak-anak yang berada di Sopo Safari. Berdasarkan hasil assessment, anak-anak Sopo Safari memiliki tingkat minat baca dan menulis yang masih minim. Pemberian prepost test saya lakukan dari 15 anak, 7 orang menjawab tidak senang membaca dan menulis karena merasa bosan.
Setelah pemberian prepost test dilakukan, penulis melakukan pemaparan materi yang berkaitan dengan literasi. Pada masa pandemi, pengajaran dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker dan mencuci tangan.
Dalam hal tersebut metode SSR (Sustained Silent Reading) atau membaca dalam hati juga merupakan salah satu cara dalam mengajak mereka untuk memulai membaca, memberi mereka ruang dengan mereka memilih buku apa saja yang disukai, dan membaca dengan waktu 15 menit, dan setelah membaca setiap orang akan maju ke depan memaparkan apa yang ia dapatkan, hal tersebut juga melatih percaya diri anak-anak Sopo Safari, dan rekan-rekan dapat bertanya.
Selain itu juga diselingi dengan ice breaking yang berkaitan dengan melatih kefokusan.
Sebagai contoh, anak membaca sebuah buku mengenai cerita rakyat, lalu menceritakan di hadapan teman-teman dan saya. Setelah itu teman-teman dan saya akan bertanya, siapa saja tokoh dalam cerita, di mana lokasi cerita tersebut.
Selain itu penerapan metode FGD (Focus Group Discussion) penulis membacakan cerita kepada mereka, lalu setelah selesai, mereka menuliskan intisari dari mereka dengarkan, dan menceritakan di hadapan teman-teman.
Terminasi yang dilakukan penulis meminta setiap anak ketika selesai membaca sesuatu yang mereka baca, mereka menuliskan di kertas yang telah penulis sediakan, dan ditempelkan di pohon literasi yang telah penulis sediakan, sehingga dampak dari kegiatan literasi yang telah dilakukan diharapkan dapat berjalan dengan baik dan berdampak.
Antusias mereka juga terlihat di hari-hari berikutnya, mereka berharap di hari-hari berikutnya dapat seperti ini, ternyata membaca dapat menjadi hal yang menyenangkan.
Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif seperti menjadikan anak-anak senang membaca, dan budaya literasi dapat naik secara signifikan dari tahun ke tahun.
Penulis juga berharap bahwa pemerintah daerah untuk menggelar acara tahunan dengan mengadakan berbagai lomba yang berkaitan dengan literasi, seperti membuat puisi, menulis cerpen, dan lain sebagainya guna mengasah kemampuan, dan bekerja sama dengan sekolah-sekolah dan orang tua.(*)
Penulis merupakan Mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.