PIRAMIDA.ID- Pada Jumat, 15 Januari 2020, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) telah melangsungkan agenda pra-pleno bersama William Sabandar. Pembekalan via zoom-meeting ini membahas berbagai hal mengenai pola pergerakan GMKI di era kekinian.
Pertama, Reclaiming Identity. Secara historis, para pendiri gerakan (founding father) telah meletakan berbagai nilai dasar GMKI. Nilai-nilai itu dapat ditelusuri dalam pembukaan Anggaran Dasar (AD) GMKI, Mars GMKI, motto GMKI, dan lain sebagainya. Termasuk terminologi kata gerakan (movement) pada GMKI, yang memberi landasan filosofis sekaligus identitasnya sebagai organisasi gerakan.
“Reclaiming your identity as a movement. Hanya dengan begitu, GMKI tetap berada pada garis gerakannya,” tegas Wiliam.

Direktur Utama PT MRT Jakarta ini berujar bahwa untuk merebut kembali identitasnya, GMKI perlu mereorientasi pendidikan kadernya. Memikirkan langkah-langkah strategis melalui desain kompetensi suplemen kader sesuai dengan karakteristik cabang dan kebutuhan zaman.
“Beberapa kompetensi kader yang mestinya dihasilkan oleh GMKI adalah kader yang memiliki daya adaptif, inovatif, dan transformatif,” ungkap Wiliam
Kader yang memiliki daya adaptif artinya memiliki sensitivitas dan survival terhadap konteks keberadaanya. Kader yang memiliki daya inovatif artinya Kemampuan memproduksi dan memperbaharui diri, ide dan gagasan dalam menghasilkan karya dan perubahan. Kader yang memiliki daya transformatif artinya Kemampuan mendorong terjadinya pembaharuan bagi lingkungannya.
Kedua, organizing digitalization. Sudah menjadi tuntutan bagi GMKI untuk mendigitalisasi sistem organisasinya. GMKI perlu bergerak dan menyusun programnya berdasarkan data, baik data internal ataupun eksternal organisasi. Penting juga untuk membangun pola kerja, GMKI harus berbasis sistem dalam rangka mengakselerasi kultur digital organisasi bagi terciptanya agenda-agenda perubahan.
Pandemi Covid-19 sebagai krisis global perlu dipandang sebagai peluang (opportunity) bagi GMKI. Dengan potensi dan sumber daya yang ada, GMKI harusnya mampu memposisikan dirinya sebagai platform yang menghimpun berbagai kekuatan untuk menyelenggarakan berbagai perubahan.
“Konektivitas antara Pengurus Pusat, Badan Pengurus Cabang serta Pengurus Komisariat perlu di konsolidasi kan sehingga platform tersebut dapat berjalan dengan baik,” kata William.
Ketiga, movement transformation. Artinya Gmki harus menciptakan para transformer yang dalam keberadaannya mampu menggerakkan dan memperbaharui kehidupan gereja, masyarakat, bangsa, dan negara. Dalam konteks demikian, maka penting bagi GMKI untuk mengkapitalisasi semua ide, gagasan, data, informasi, dan jejaringnya. Lalu, mengintegrasikan seluruh gerak organisasi dalam kaitannya dengan proses-proses perubahan.
Ahli bidang transportasi dan rekonstruksi pasca bencana memberi quote penutupnya bahwa, “GMKI adalah rumah bagi setiap perubahan, yang bisa didorong lewat proses-proses networking organisasi”.
Ketua Umum PP GMKI, Jefri Gultom mengatakan bahwa GMKI memiliki keberlimpahan potensi dan sumber daya organisasi.
“Persebaran senior dan kader di ratusan cabang seluruh Indonesia menyimpan potensi dan networking yang perlu dioptimalisasi,” kata Jefri
Ia menambahkan bahwa kekayaan organisasi ini perlu diintegrasikan melalui kerja-kerja digital. Beriringan dengan itu, pilihan untuk berkolaborasi penting untuk dibangun agar arah gerak organisasi lebih efektif lagi.
“Sentuhan teknologi digital di era networking society menjadi kebutuhan mendesak bagi organisasi sebesar GMKI untuk mengakselerasi proses-proses pergerakannya,” tutupnya.(*)
Diskusi Pra pieno dgn pak William sangat penting di follow up untuk menyusun sebuah Grand Design Pengembangan Organisasi dan management GMKI dalam masa Kini.:
1. Jadikan tiga dimensi organisasi menjadi 3 Program
Induk : reclaiming identity ; organizing digitalization agar gmki bisa menjadi a.l. digital- based-organization dan movement transformation.
2. Pelajari dan diskusikan (Studi group) dgn pak William ( Kalau beliau ada waktu) masing2 dimensi tsb agar menemukan esensinya supaya bisa dirumuskan core program/s setiap dimensi.
3. Terjemshkan setiap core program ke dalam aktivitas dan identifikasiKan tugas apa yg perlu dikerjakan untuk merealisasikan aktivitas2nya..Implementasinya memerlukan data yg akurat (itu sebabnya dijitalisasi) karena skan diperlukan baik sinergi intelektual maupun stratejik dalam mengevaluadi capaian2 dari setiap kegiatan yg interconnected dgn core program lain dan apakah sebagai Gerakan memang telah atau sedang terjadi Transformasi yg di inginkan. Model Ini jadikan Salah approach bagi sistem Pendidikan Kader di GMKI. Harus bawahi bahwa Gerakan itu selalu transforming.
Mudah2an berguna sebagsi masukan untuk follow up gagasan brilliant dari teman sesama Willy. Gue cuman gatal aje!! Sebenarnya model Ini berbasis pada prinsip
Program classification tempo doeloe.
UOUS.
Willi Toisuta.