Andry Napitupulu*
PIRAMIDA.ID- Mungkin ini akan terdengar sebagai suatu pembuka bacaan yang klise, namun kata ‘politik’ sudah menjadi bagian dari makanan sehari-hari kita sebagai masyarakat Indonesia, namun sebelum membahas tentang ‘politik’, terlebih dahulu kita mengupas kembali kata dari ‘spiritualitas’ yang saat ini sudah jarang dibahas.
Istilah spiritualitas seringkali disalah-artikan dan dilihat sebagai sesuatu yang konteksnya sama dengan agama, keyakinan tertentu, aturan moral dan tradisi-tradisi. Spiritualitas pada dasarnya bukanlah sesuatu yang formal, terstruktur dan terorganisir seperti agama pada umumnya.
Spiritualitas berasal dari kata ‘spiritus’ yang artinya adalah nafas kehidupan. Spirit merupakan kekuatan yang tidak terlihat yang memberikan nafas bagi kehidupan kita, menghidupkan kita, dan memberikan kita energi. Spirit membantu kita dalam mendefinisikan kebenaran, keunikan diri sesungguhnya dalam diri kita dan menegaskan individualitas kita.
Sedangkan agama berasal dari bahasa latin, yaitu ‘religio’ yang artinya adalah kepercayaan atau koneksi. Agama pada umumnya merepresentasikan jalan spiritual seseorang, kemudian Agama merupakan suatu sistem tua untuk suatu kekuatan yang tidak terlihat.
Spiritualitas dan agama merupakan suatu konteks yang berbeda namun selalu beriringan. Spiritualitas lebih melihat ke dalam batin menuju kesadaran akan nilai-nilai universal seseorang, sedangkan agama melihat keluar diri seseorang menggunakan ritus (tata cara keagamaan) formal dan kitab suci. Agama lebih melihat kepada orientasi eksternal sedangkan spiritualitas mencakup bagaimana seseorang memandang kedalam batinnya. Jadi, spiritualitas dapat dijangkau oleh semua orang baik yang religius maupun yang tidak.
Spiritualitas merupakan proses transformasi melalui berbagai aspek kehidupan yang terintegrasi meliputi fisik, emosional, pekerjaan, intelektual dan rasional. Spiritualitas sangat berkaitan dengan kreativitas, cinta, pengampunan, kasih sayang, kepercayaan, penghormatan, kebijaksanaan, keyakinan, dan rasa akan kesatuan.
Sebagai manusia, kita dibentuk dari tubuh, pikiran, emosi dan jiwa (spirit). Spiritualitas memberikan ekspresi bahwa ada sesuatu di dalam diri kita; yang berkaitan dengan perasaan, dengan kekuatan yang datang dari dalam diri kita, dengan mengetahui diri terdalam kita.
Spiritualitas merupakan sebuah istilah di mana banyak orang menginginkannya untuk dapat dimasukan kedalam kehidupan kita. Spiritualitas dapat merefleksikan nilai seperti memberikan kontribusi kepada umat manusia serta alam semesta. Peran spiritualitas sangat berperan penting bagi kehidupan kita baik terhadap kehidupan berkeluarga, beragama bahkan pada kehidupan kerja kita.
Spiritualitas membantu individu dalam menemukan makna dan tujuan dalam hidup mereka dan lebih menunjukkan nilai personalnya. Nilai personal ini merefleksikan hasrat untuk membuat perbedaan dan membantu untuk membuat dunia lebih bermakna. Maka dari itu, memiliki spiritualitas di kehidupan sehari–hari sangat penting untuk membuat kita menjadi individu yang utuh dan bermakna.
Selanjutnya, bicara tentang politik bahwasanya politik ialah seni yang di mana setiap usaha dan kegiatan itu pasti harus bermulai dari politik atau bagaimana cara kita dapat menyelesaikan sesuatu ataupun memecahkan permasalahan yang saat ini sedang kita alami.
Namun, apakah politik itu menjadi asupan yang kita santap dengan penuh antusiasme? Jawabannya, tentu tidak. Karena pembahasaan politik di sekeliling kita cukup memperhatikan mulai dari grup WhatsApp keluarga yang berbeda pendapat atau laman media sosial yang dipenuhi pernyataan muak akan kampanye hitam, sampai istilah ‘office politics’ di lingkungan kerja yang dikonotasikan sebagai hal negatif.
Sabam Sirait, salah seorang pakar ilmu politik dan politikus Indonesia, saat menjabat sebagai DPD RI, berpendapat bahwa, “Sebagai politisi, apapun resikonya harus kita hadapi dan kita harus siap berkorban, bahkan kasarnya, kalau untuk kepentingan rakyat, keluarga kita pun tidak menjadi prioritas.”
Kemudian beliau menambahkan bahwa politik selalu menyangkut kepentingan dari seluruh masyarakat, bukan kepentingan pribadi, dan untuk berpengaruh dalam berpolitik diperlukan kekuasaan dan kewenangan melalui cara persuasif maupun koersif untuk mencapai kepentingan umum tersebut.
Dalam hal ini definisi politik dikerucutkan sebagai kepemerintahan yang memang memerlukan kekuasaan dan kewenangan harus mencapai kepentingan-kepentingan masyarakat demi kesehjahteraan masyarakat indonesia.
Akan tetapi, marilah kita memaknai politik dalam keseharian kita dengan mendalam, sebagai suatu hal yang kita lakukan tanpa kita sadari walaupun kita menghindari pengunaan istilah tersebut.
Seorang filsuf, yaitu Aristoteles dalam karyanya “Politics” menyatakan bahwa “manusia adalah makhluk politik”. Dengan kata lain, sudah menjadi kodrat manusia untuk berpolitik karena alam semesta telah menganugerahi manusia untuk berpendapat dan mengomunikasikan konsep moral seperti keadilan maupun norma universal lainnya untuk kepentingan bersama. Kemampuan berpendapat itu bersandingan dengan kodrat manusia lainnya sebagai makhluk sosial dan membentuk suatu masyarakat yang politis secara alami.
Memang benar, walaupun dengan berpartisipasi secara aktif dalam politik tidak menjamin akan tercapainya negara Indonesia yang sempurna kepemerintahannya dalam waktu dekat. Tetapi, usaha untuk merekonstruksi atau membangun kembali makna politik menjadi hal yang positif sangat diperlukan untuk kehidupan bermasyarakat masa kini dan masa depan.
Khususnya bagi generasi muda yang terjebak dalam era digital, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk mencari tahu informasi yang valid maupun hoax mengenai isu-isu penting di negara ini.
Tingkatan lanjut dari ini adalah menyampaikan pendapat maupun argumentasi berdasarkan informasi valid tersebut dengan cara yang persuasif namun harus juga dengan cara beretika, yaitu dengan cara tata sopan santun dalam pergaulan politik dengan menimbang prinsip moral baik maupun buruk.
Selain itu juga, untuk menyampaikan sebuah aspirasi politik juga dapat melalui surat, media, bahkan lebih tegasnya secara langsung didepan. Maka dengan begitu, untuk itu politik dapat disebut sebagai seni karena membutuhkan kemampuan untuk menyakinkan melalui kecanggihan dalam menyusun argumentasi dan memiliki daya persuasif.(*)
Penulis merupakan mahasiswa yang saat ini aktif di organisasi, yaitu Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Pematangsiantar-Simalungun.